Sosok

Agus Supriyanto : Minta Pemprov Jakarta Batalkan Penggusuran Lahan SAAJA

Administrator | Sabtu, 03 Maret 2018 - 19:47:25 WIB | dibaca: 252 pembaca

Kuningan, Nyi Ageng Serang, Jakpos.web.id- Dua puluh ditambah lima, dua puluh di otak, lima di jari… dua puluh lima.” Begitulah cara siswa-siswi Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) belajar berhitung.

Tak hanya bersuara, mereka juga menggerakkan tangan untuk mempermudah berhitung. Sejumlah siswa-siswi kelas TK B belajar, sang guru mengetes kemampuan berhitung mereka. Siswa yang bisa menjawab dipersilakan pulang. Mereka berhitung dengan semangat agar menjadi yang tercepat. Semangat itu tak hanya tampak di wajah siswa-siswi kelas TK B.

Semangat yang sama juga menghiasi wajah polos siswa-siswi kelas TK A1 dan A2 di SAAJA. SAAJA merupakan alternatif pendidikan bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera yang dibangun oleh Yayasan Pemberdayaan Rakyat Miskin (PaRaM) pada 2002 di Taman Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) DKI Jakarta, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Yang memotivasi kami mengelola SAAJA dengan segala keterbatasannya adalah keinginan mendampingi pendidikan bagi keluarga pra-sejahtera dan anak-anak yang masih beraktivitas di jalanan. Meski kabarnya lahan yang ditempati oleh SAAJA akan digusur,  kami minta Pemprov  Jakarta membatalkan penggusuran lahan SAAJA karena  masih diperlukan di tengah masyarakat metropolitan,” kata Pembina SAAJA, Agus Supriyanto.

SAAJA mempunyai tiga kelas. Kelas TK A1 setara dengan pendidikan anak usia dini (PAUD), TK A2 untuk anak-anak usia 5-6 tahun, dan TK B untuk anak-anak usia 6-7 tahun yang akan memasuki sekolah dasar (SD).

Setiap Senin sampai Jumat, pembelajaran berlangsung pada pukul 11.00-17.00. Mereka belajar bergantian di ruang kelas yang sama. Anak-anak belajar membaca dan berhitung. Mereka juga diajarkan Pancasila, lagu-lagu nasional, serta pendidikan dasar agama Islam.

Setiap Sabtu, mereka memiliki kegiatan ekstrakurikuler atau lingkungan. “Dengan mengenalkan kegiatan menanam dan merawat lingkungan, diharapkan dapat membekali anak-anak untuk mencintai lingkungan,” ujar Agus.

Ruang kelas sederhana Siswa-siswi SAAJA belajar di ruangan berukuran sekitar 6 meter x 10 meter yang dibangun dari bambu, kayu, dan dinding tripleks. Alas sekolah hanya diplester dan diberi karpet plastik yang mulai robek. Ruangan itu beratap terpal yang dilapisi daun rumbia.

 SAAJA pernah ditawari untuk dibuatkan kelas permanen. Namun, pengelolanya menolak tawaran itu. Selain karena sekolah dibangun di Taman Badiklat, bangunan itu juga merupakan bentuk kritik sosial. “Kami menyadari bahwa fungsi taman harus dijaga.

Dan untuk tempat belajar SAAJA biar tetap seperti gubuk rakyat, gubuk belajar bagi warga, dan taman bermain bagi anak-anak. Ciri gubuk SAAJA adalah bentuk kritik sosial kepada kita semua bahwa di metropolitan masih perlu rumah sederhana untuk belajar warga. Tempat belajar tidak harus megah dan permanen, di mana pun bisa dilakukan pembelajaran,” kata Agus.

Seluruh kegiatan belajar mengajar di SAAJA ditunjang oleh donatur. Mereka memberi sumbangan berupa dana, perlengkapan belajar untuk siswa, program belajar, makanan, seragam sekolah, dan lainnya. Tidak menentunya dana yang diperoleh membuat biaya operasional sekolah terhambat. Honor untuk guru sering terlambat dibayar.

 Meski begitu, guru-guru tetap ikhlas mengajar. “(Honor) tahun ini turun, tadinya Rp 1 juta jadi Rp 500.000. Ini udah bulan Mei, yang April aja belum dibayar. Tapi, alhamdulillah berkahnya ada, kecipratan dikit-dikit. Kalau ada acara, misalnya, sisa makanan lumayan saya bawa untuk anak-anak,” kata Nunung, salah seorang guru.

Permasalahan lahan Kelas yang berdiri di Taman Badiklat DKI itu membuat pengelola SAAJA khawatir karena sewaktu-waktu sekolah itu bisa digusur. Terakhir kali Pemprov DKI melayangkan surat peringatan pada Juli 2014. “Menjawab surat dari Pemprov, kami audiensi, diterima sekda bidang kesra. Dalam pertemuan dijanjikan win-win solution, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Satu sisi kami alami rasa waswas dengan sikap Pemprov sekarang ini yang giat menggusur. Tapi, di sisi lain kami meyakinkan warga binaan (orangtua siswa) agar tak perlu resah,” pungkas  Agus. (GN)

 

 










Komentar Via Website : 11
Bahaya Kolesterol Tinggi
05 Maret 2018 - 13:08:33 WIB
Terimakasih banyak atas informasi yang anda sajikan pada hari ini ! https://goo.gl/uMmbHn | https://goo.gl/if5zN4 | https://goo.gl/vAlFkx | https://goo.gl/N7g6Co | https://goo.gl/Taiuaq
Obat Jantung Bocor Tanpa Operasi
05 Maret 2018 - 13:52:50 WIB
Terimakasih banyak atas informasi yang anda sajikan pada hari ini ! https://goo.gl/QISA7l | https://goo.gl/LrezPj | https://goo.gl/23WRUq | https://goo.gl/vkmR0T | https://goo.gl/xFkypJ
Cara Mengobati Penyakit Liver Kronik Secara Alami
05 Maret 2018 - 15:05:38 WIB
Terimakasih banyak atas informasi yang anda sajikan pada hari ini ! https://goo.gl/Poqb4m | https://goo.gl/Z9OqNj | https://goo.gl/gdePuU | https://goo.gl/OEcWmP | https://goo.gl/L4HALj
Obat Menopause Dini Di Apotik
06 Maret 2018 - 09:46:19 WIB
Obat Menopause Dini Di Apotik


http://goo.gl/Sa5wdG
Obat Prostat Di Apotik Kimia Farma
06 Maret 2018 - 12:29:59 WIB
Obat Prostat Di Apotik Kimia Farma

http://goo.gl/ZgDy8H
Obat Batuk Anak Di Apotik Kimia Farma
07 Maret 2018 - 09:08:51 WIB
Obat Batuk Anak Di Apotik Kimia Farma

http://goo.gl/PKUrEm
Obat Epilepsi Di Apotik Kimia Farma
07 Maret 2018 - 11:12:11 WIB
Obat Epilepsi Di Apotik Kimia Farma


http://goo.gl/ic51jY
Obat Epilepsi Di Apotik Kimia Farma
07 Maret 2018 - 11:21:07 WIB
Obat Epilepsi Di Apotik Kimia Farma


http://goo.gl/ic51jY
Obat Tumor Jinak Di Leher
08 Maret 2018 - 10:46:58 WIB
Obat Tumor Jinak Di Leher


http://goo.gl/gbW9gk
AwalKembali 12 Lanjut Akhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)