Ragam

Impian Pendidikan Indonesia 2018

DARI SEKOLAH RAMAH ANAK KE SEKOLAH RUMAH ANAK

Administrator | Sabtu, 16 Desember 2017 - 01:50:46 WIB | dibaca: 134 pembaca

oleh Seto Mulyadi
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Instruksi Presiden tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental diterbitkan menjelang akhir tahun lalu. Salah satu isinya adalah poin tentang sekolah sebagai basis, di samping rumah, penciptaan lingkungan nirkekerasan dan ramah anak. Mari kita blejeti satu per satu. Mulai dari nirkekerasan.

Inpres tersebut memang baru keluar menjelang Indonesia masuk ke 2017. Tapi ihwal sekolah sebagai lingkungan nirkekerasan, sepanjang ingatan saya, sebenarnya sudah menjadi isu aktual sejak tahun delapan puluhan. Itulah yang tercermin pada lagu Omar Bakri-nya Iwan Fals. Di salah satu baitnya, Pak Guru Bakri diceritakan terperanjat bukan alang-kepalang karena di pekarangan sekolah banyak polisi. Penyebabnya mirip situasi zaman now: pelajar tawuran.

Kian mencekam karena pada kurun yang tak terpaut jauh menggeledek warta tentang tragedi kekerasan yang dialami seorang bocah bernama Arie Hangara. Anak malang itu meninggal dunia akibat kekerasan beruntun yang dilakukan oleh orang tuanya.

Beruntung, pada masa itu, masalah siswa adu gelut dan anak menyongsong maut seolah menemukan penawarnya dari program Penataran P4 dan sejumlah mata pelajaran terkait budi pekerti, semisal Pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila, dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.

Sejak sebelum keluarnya Inpres GN Revolusi Mental hingga kini, dalam rangka merealisasikan sekolah sebagai lingkungan tanpa kekerasan, saya mengusulkan diadakannya borang akreditasi yang secara khusus menakar sekaligus mendorong lembaga pendidikan agar benar-benar hirau akan hal tersebut. Seiring dengan itu, kalau perlu, sertifikasi pengajar pun bisa menjadi taruhan bagi guru maupun dosen yang kedapatan melakukan kekerasan terhadap anak didik.

Sekolah tentu tak cukup jika hanya mampu menjadikan lingkungannya steril dari kekerasan. Karena itulah, dari Oemar Bakri-nya Iwan Fals, kita putar kenangan ke Ibu Guru Kami karya guru saya tercinta, Pak Kasur. Beda nuansa dengan kisah guru yang dinyanyikan Iwan Fals, Pak Kasur berdendang tentang seorang guru yang pandai bernyanyi, pandai bercerita, dan--ini dia--asyik sekali. "Asyik sekali" sungguh-sungguh merepresentasikan sosok guru yang menyenangkan dan suasana sekolah yang membahagiakan.

Sekolah yang asyik sekali, jika diterjemahkan ke terma masa kini, kiranya sebangun dengan sekolah ramah anak (SRA). SRA adalah sekolah yang secara terencana berikhtiar memenuhi hak-hak anak. Suatu sekolah dapat disebut sebagai SRA ketika ia sudah berhasil menjadikan lingkungannya sehat, asri, inklusif, dan nyaman bagi semua siswa, tak terkecuali siswa berkebutuhan khusus. Definisi UNICEF tentang sekolah ramah anak (child-friendly school) tampaknya lebih komprehensif lagi, yakni meliputi aman secara fisik, tenteram dari sisi batiniah, dan memberdayakan anak secara psikologis.

Untuk mewujudkan SRA, diperlukan sinergi antartiga pihak yang mencakup sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pada sisi itu, terlihat benang merah antara prasyarat SRA dan Inpres GN Revolusi Mental, yaitu kemitraan antara sekolah dan keluarga (rumah) anak. Tapi pertanyaan muncul, bagaimana perwujudan kemitraan sekolah dan rumah tersebut?

Saya mengidamkan suatu sistem pendidikan yang membuka ruang semaksimal mungkin bagi orang tua dan sekolah untuk merancang program bersama sesuai kebutuhan masing-masing siswa. Puncak dari gagasan ini sebenarnya adalah program sekolah rumah. Artinya, sekolah menyediakan dua opsi: anak bersekolah di sekolah atau pun anak bersekolah di rumah. Itu masalah lingkungannya. Sedangkan esensi muatannya adalah rancangan program yang benar-benar fleksibel sebagai tanggapan terhadap keunikan siswa, dan keunikan itu hanya bisa disikapi secara pas manakala orang tua dan sekolah bersedia duduk bersama dan menyusun 'puzzle' juga bersama-sama

Getir, namun sejujurnya, angan tentang SRA sedemikian rupa diilhami oleh hasil pengamatan saya terhadap piranti lunak pendidikan serta para pembinanya yang masih membutuhkan waktu tak sebentar untuk mengokohkan kesiapan mereka dalam memahami siswa sebagai individu (anak) yang khas satu sama lain. Dihubungkan dengan aspek penyelenggaraan SRA, sekolah memang dituntut untuk menyesuaikan programnya dengan anak. Maknanya, program pendidikan diselarasan dengan rangkaian fase perkembangan anak. Sepintas, itu sudah ideal. Namun saya tidak yakin benar bahwa upaya penyelarasan itu akan berlangsung optimal andaikan orang tua--selaku pihak yang diasumsikan paling mengerti kondisi anak--terkesampingkan. Ketidaksiapan itu berdampak pada terbentuknya--sadar maupun tidak--pemaksaan agar siswalah yang harus menyesuaikan diri dengan standar-standar yang diciptakan.

Rancangan pendidikan yang sepenuhnya berorientasi pada kekhasan individual anak, sehingga bersifat sangat customizable, memang bisa memberatkan guru. Toh, sekolah bukan kursus privat. Guru-guru pun terkondisi untuk mengajar dalam situasi klasikal, bukan guru les individual. Pemafhuman akan kendala itulah yang, seperti saya tulis di atas, meyakinkan saya bahwa betapa indahnya apabila peran guru itu semaksimal mungkin diambil alih oleh orang tua siswa sendiri. Dan format pendidikan paling pas untuk itu adalah sekolah rumah.

Format sekolah rumah senyatanya menyediakan jalan keluar bagi sekian banyak isu di dunia pendidikan kita. Mulai dari renggangnya kualitas serta minimnya kuantitas waktu interaksi antara anak dan orang tua serta 'mahal'nya biaya pengadaan sarana dan prasarana sekolah yang harus ditanggung oleh negara. Problem terkait rasio jumlah siswa dan jumlah guru juga niscaya teratasi. Muatan dan perlengkapan belajar lebih sesuai dengan kemampuan belajar dan kepribadian siswa. Kesesuaian tersebut yang menjadi penjelasan atas berbagai temuan bahwa pencapaian akademis anak-anak yang mengikuti sekolah rumah ternyata menyamai bahkan mengungguli anak-anak peserta sekolah berformat konvensional.

Kelebihan lain sekolah rumah adalah anak terhindar dari jam belajar yang meletihkan. Ketika anak sedang sakit, anak tidak lagi harus kehilangan jam pelajaran karena tidak ke sekolah. Satu lagi nilai tambah sekolah rumah adalah, ini boleh jadi situasi khusus yang ada di Indonesia, resiko kekerasan dan perundungan oleh sesama siswa lebih dapat ditekan.

Asli Indonesia

Hingga saat ini masih banyak kalangan yang menyangka bahwa program sekolah rumah merupakan hasil impor dari program pendidikan yang diinovasi dan diterapkan di luar negeri. Anggapan itu keliru!

Publik lupa bahwa tokoh besar sekaliber Bung Karno sesungguhnya merupakan produk dari pendidikan berformat sekolah rumah. Sang Pemimpin Besar Revolusi memang pernah menempuh pendidikan ala konvensional, yaitu di sekolah. Namun sejarah mencatat, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto adalah guru sejati Bung Karno. Rumah Cokroaminoto di Gang Peneleh adalah sekolah rumah di mana Sukarno belia ditempa menjadi intelektual, pecinta Islam, ideolog, insan bervisi kebangsaan, sekaligus orator ulung.

Di rumahnya, Cokroaminoto memberikan banyak buku kelas berat ke anak didik kesayangannya itu. Di kamarnya yang tanpa jendela, Sukarno remaja mengasah kemampuan pidatonya. Program pendidikan rumah bukan berarti anak melulu di rumah. Itu pula yang dilakukan Cokroaminoto. Sukarno diajaknya melakukan perjalanan ke banyak daerah dan bertemu dengan perkumpulan-perkumpulan masyarakat. Aktivitas luar rumah itu memberikan kesempatan kepada Sukarno untuk menyimak bagaimana Cokroaminoto mengajarkan agama sekaligus mengartikulasikan dialektika pemikirannya.

Hubungan keduanya bahkan melampaui level relasi guru dan murid. Di hati Sukarno, Cokroaminoto adalah laksana orang tua biologisnya. Terbukti, ketika isteri Cokroaminoto wafat, Sukarno memutuskan menikahi putri Cokroaminoto guna mengatasi kesedihan 'ayah'-nya itu. Kelekatan sedemikian hangat seperti itu--sekali lagi--merupakan keistimewaan yang bisa diciptakan dalam pendidikan berformat sekolah rumah.

Ke sanalah, ke keadaan di Gang Peneleh itulah, saya mengangankan situasi pendidikan Indonesia 2018. Dari sekolah nirkekerasan ke sekolah ramah anak, lalu puncaknya sekolah rumah anak, Semoga.

 










Komentar Via Website : 1
Cara Menyembuhkan Angin Duduk
11 Januari 2018 - 15:22:54 WIB

Terima kasih atas informasinya sangat bermanfaat sekali :)
https://goo.gl/X3ERFD
https://goo.gl/Npyt6i
ht tps://goo.gl/ugfEv9
https://goo.gl/pfQ8YU
https://g oo.gl/b3Jmuj
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)