Kota Kita

Delapan Ancaman Bencana Ada di Jakarta

Administrator | Jumat, 08 September 2017 - 03:35:48 WIB | dibaca: 206 pembaca

Perbandingan Peta Banjir di Prov DKI Jakarta Tahun 2013 dan 2014 (sumber foto : BPBD Prov.DKI Jakarta)

PROVINSI DKI JAKARTA - Merupakan Ibukota Negara Republik Indonesia yang memiliki permasalahan kebencanaan yang komplek. Berdasarkan data dari Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, ada delapan jenis ancaman bencana yang ada di DKI Jakarta.

Adapun delapan jenis bencana tersebut yaitu ; Banjir, Kebakaran Gedung dan Pemukiman, Epidemi Penyakit, Konflik Sosial, Kegagalan Teknologi, Cuaca Ekstrim (puting beliung), Gempa Bumi dan Gelombang Ekstrim.

Dari delapan jenis bencana tersebut, banjir dan kebakaran merupakan jenis bencana yang paling mendominasi dan sering terjadi di lima wilayah kota dan satu kabupaten yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

Banjir merupakan salah satu ancaman terbesar di DKI Jakarta, berdasarkan data dari BPBD Provinsi DKI Jakarta serta catatatn sejarah,banjir pernah terjadi di DKI Jakarta pada tahun 1621, 1654dan 1918. Banjir besar juga pernah terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002, 2007, 2013 dan 2014.

Kejadian banjir tahun 1996 menggenangi hampir seluruh penjuru kota, kejadian ini menjadi tragedi nasional dan mendapat perhatian dunia. Banjir tahun 2007 juga memiliki cakupan wilayah genangan yang lebih luas. Berdasarkan data dari BAPENAS kerugian akibat banjir tahun 2007 mencapai Rp.5,16 teriliyun. Sedangkan banjir tahun 2013 dan 2014 juga memiliki dampak kerugian yang cukup besar bagi wilayah DKI Jakarta.

Selain banjir, kejadian kebakaran gedung dan pemukiman di DKI Jakarta juga cukup tinggi di wilayah DKI Jakarta, sebagian besar disebabkan akibat konsleting arus pendek listrik, pemukiman padat penduduk dan kumuh, sempitnya akses jalan ke pemukiman penduduk serta minimnya sumber air juga menjadi kendala tersendiri bagi petugas Dinas Pemadam Kebakaran ketika menanggulangi kejadian kebakaran di wilayah DKI Jakarta.

Berdasarkan data dari Rencana Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta (2013 – 2017), angka kejadian kebakaran yang fluktuatif sejak tahun 2006 – 2010, meski demikian, kecendrungan jumlahnya naik dalam kurun waktu tersebut. Bahkan terjadi lonjakan pada tahun 2011 dengan 953 kejadian dibanding pada tahun 2010 dengan 698 kejadian. Jika diambil angka rata-rata, kejadian pertahun mencapai  lebih dari 800 kejadian kebakaran.

Sementara itu berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta, dari tangal 01 Januari 2013 hingga 24 April 2013 telah terjadi 295 kejadian kebakaran dengan korban meninggal sebanyak 5 orang, luka-luka 22 orang, dan total nilai kerugian mencapai Rp.81.778.250.00,-

Dengan luas wilayah 661,52 km2 dimana 40% atau 24.000 hektar merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata dibawah permukaan air alut. Terdapat 13 sungai di DKI Jakarta yang melewati dan bermuara ke Teluk Jakarta, yaitu ; Kali Mockervart, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, Kali Krukut, Kali Baru Barat, Kali Ciliwung, Kali Baru Timur, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat dan Kali Cakung. Secara alamiah kondisi ini memposisikan wilayah DKI Jakarta memiliki kerawanan yang tinggi terhadap banjir.

Wilayah DKI Jakarta umumnya beriklim panas dan kering atau beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar 32,7 derajat celcius – 25,4 derajat celcius pada malam hari. Terletak di bagian barat Indonesia, Jakarta mengalami puncak musim penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah hujan 350 milimeter, dengan suhu rata rata 27 derajat celcius.

Sejarah kebencanaan yang pernah terjadi di Provinsi DKI Jakarta merupakan bencana alam dan non alam serta bencana sosial (konflik sosial) akibat ulah manusia, tedapat delapan potensi bencana yang teridentifikasi berdasarkan sejarah kejadianya, sebagimana disebutkan diatas.

Proses penanggulangan bencana merupakan serangkaian kegiatan yang tidak cukup melibatkan pemerintah saja, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat, menjadi tanggung jawab semua pihak, pemerintah, kalangan dunia usaha dan masyarakat (NGO, Akademisi, dll), sehingga digambarkan dengan tiga pilar, lambang segitiga.

Sejak lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, paradigma penanggulangan bencana telah bergeser dari responsif ke prefentif, pengurangan risiko bencana.

sumber data : BPBD Prov.DKI Jakarta, BAPENAS
sumber foto : BPBD Prov.DKI Jakarta



(Oleh : W. Suratman, Jurnalis, aktif dalam kegiatan penanggulangan bencana)











Komentar Via Website : 3
Obat herbal untuk paru-paru bocor
24 November 2017 - 07:44:08 WIB
selamat pagi http://www.herbalparu.com/cara-menyembuhkan-paru-paru-boco r-dengan-cepat-dan-mudah/ Terimakasih
cara menyembuhkan rabun dekat
07 April 2018 - 07:27:38 WIB
success continues in his efforts may we always given the best http://walatrasehatmata1.com/http://obatkista1.com/
Obat Herbal Infeksi Saluran Kemih Super Ampuh
12 April 2018 - 10:29:05 WIB
Terimakasih mimin atas informasinya http://goo.gl/XxCHbt
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)