Ronda

Helmi Adam

Dolar Naik, Gali Lobang Tutup Lobang

Administrator | Selasa, 24 April 2018 - 17:03:02 WIB | dibaca: 44 pembaca


  • Kenaikan Dollar hingga 14 ribu memunculkan masalah baru buat APBN kita, Yaitu makin melebarnya neraca keseimbangan primer yang berakibat pada berutang untuk membayar utang, atau gali lubang tutup lubang jika menggunakan istilah raja dangdut Rhoma Irama. Lalu apakah keseimbangan Primer itu ? dan apa pengaruhnya bagi APBN kita..?

    Dalam APBN, keseimbangan Primer dicantum sebagai pos atau item utama sejak belasan tahun lalu. Namun, istilah itu menjadi populer bagi publik baru-baru ini, ketika Bu Sri Mulyani menjelaskannya. Dia mengakui terus terang bahwa sebagian utang baru hanya untuk membayar bunga utang, yang ditunjukkan oleh negatifnya angka keseimbangan primer. 

    Padahal kita selama ini di "bohongi Pencitraan " Seolah olah kita berutang adalah untuk membangun infrastruktur dan lain-lain.

    Keseimbangan primer adalah pendapatan yang dikurangi belanja maka jika terjadi belanja lebih besar dari pendapatan,maka akan terjadi defisit yg berakibat pada keseimbangan primer negatif. Jika terjadi surplus keseimbangan primer positif. Sedangkan Pendapatan dalam  APBN adalah  penerimaan tidak termasuk  utang baru. sementara belanja juga tidak meliputi pembayaran utang. 

    Dengan definisi diatas, maka  APBN kita sejak era Jokowi, keseimbangan Primer menjadi negatifnya semakin membesar.

    Sedangkan Pengertian bunga yaitu komisi, diskonto ataupun ongkos lain dalam berutang. Utang yg Nominalnya terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama karena memang posisi utang bertambah besar. menciptakan beban anggaran yg besar .

    Realisasi APBN Indonesia dahulunya, selalu defisit, sehingga memiliki keseimbangan primer yang negatif. Berutang baru adalah untuk membayar utang lama dan menutupi defisit saja. Bahkan, Kementerian Keuangan sempat akan memelihara kondisi ini dengan menempatkannya sebagai indikasi kesinambungan fiskal. 

    Namun sayangnya sejak tahun 2012 terjadi keseimbangan primer yang negatif dan nilainya cenderung membesar. Perlahan, tidak hanya dalam arti nominal, namun juga prosentasinya terhadap total pendapatan, total belanja, dan bahkan PDB.


    Sekali lagi, bedakan antara pembayaran bunga dengan pembayaran cicilan utang. Ingat pula bahwa pendapatan tidak termasuk penerimaan dari utang baru. Jika keseimbangan primer adalah nol, maka kita hanya gali lubang tutup lubang (bayar utang lama dengan utang baru). 

    Jika keseimbangan primer negatif, maka kita menggali lubang yang lebih besar atau membuat lubang baru lagi...

    Ini akan menciptakan APBN kita tidak sehat, dan pemerintah akan datang akan mewarisi kondisi APBN yg "sakit".

    semoga pemerintah bisa mengatasi ditengah tax ratio yg terus menerus turun hingga 9.9 persen. yg berakibat mengurangi pendapatan negara, dan akan membutuhkan usaha yg keras untuk mengatasinya...

    * Penulis adalah Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Borobudur Jakarta.

  • Balas










Komentar Via Website : 2
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)