Ragam

Sejarah Betawi

Ini Dia Empat Jawara Betawi Tempo Dulu

Administrator | Sabtu, 02 September 2017 - 17:15:50 WIB | dibaca: 804 pembaca

Repro Betawi Tempo Dulu (sumber foto : ist/dok)

Selama ini kita hanya mengenal Si Pitung, jawara dari Rawa Belongsebagai jagoan dari Tanah Betawi. Tak banyak yang tahu kalau di Tanah Betawi ini ada banyak sekali jawara, namun namanya tidak setenar Si Pitung.

Mau tahu siapa jawara Betawi yang ikut berjuang melawan kompeni (penjajah)??. Beberapa nama jawara tersebut bahkan namanya diabadikan sebagai nama jalan :

Haji Darip ;

Jawara asal Klender, Haji Darip merupakan putra asli Betawi kalahiran tahun 1886 di Kampung Jatinegara Kaum dari pasangan Haji Kurdin dan Hajah Nyai, anak ketiga dari tiga bersaudara. Hanya menempun pendidikan non formal belajar ngaji di kampung, diantaranya dari gurunya Haji Gayor di Klender. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat dipenjara  dan belajar dari temanya. Tahun 1914-1919 ia dikirim oran tuanya untuk belajar agama Islam di Mekah. Pulang dari Mekah ,ia menikah dengan gadis pilihan orang tuanya dan dikaruniai seorang anak. Saat anaknya berumur 2 tahun, istrinya meninggal dan tahun 1937 Haji Darip menikah lagi dengan Hajjah Amidah dan dikaruniai 11 orang putra dan putri.

Menurut sebuah legenda, Haji Darip memiliki jimat yang membuatnya kebal pluru dan tahan bacok. Haji Darip juga dianugerahi ‘aji pengasihan’ yang dapat dengan mudah menaklukan penjahat untuk dijadikan anak buah. Selain dikenal sebagai mubhalig, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Bagi warga Betawi  dia disebut sebagai jawara sekaligus pahlawan perjuangan. Tapi bagi pemerintah kolonial waktu itu, dia dikenal sebagai bandit. Hai Darip dengan gerombolanya mengusik ketenangan pemerintahan Batavia.

Haji Darip dan gerombolanya mirip kisah Robin Hood. Mereka suka menjarah kompeni dan kaum bangsawan congkak. Tentu saja hasil jarahan gerombolan Haji Darip akan dibagikan ke warga pribumi Betawi. Daerah kekuasaan H Darip, dimulai dari Bekasi, Pulaugadung, Klender, sampai ke Jatinegara. Sepak terjang Haji Darip membuatnya sering dijebloskan ke penjara oleh kompeni.

Haji Darip meninggal 13 Juni 1981. Untuk mengenang jasanya, nama Haji Darip dijadikan nama jalan di daerah Klender menuju Bekasi. Daerah kekuasaan Haji Darip dahulu.

Sabeni ;

Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala, Tanah Abang dari orang tua bernama Channam  dan Piyah. Nama Sabeni melejit setelah berhasil mengalahkan satu jagoan daerah Kemayoran yang berjuluk Macan Kemayoran ketika hendak melamar puteri si Macan Kemayoran untu dijadikan istri.

Selain itu peristiwa-peristiwa lainnya antara lain pertaurangan di Princen Park (saat ini disebut Lokasari) dimana Sabeni berhasil mengahalkan Jago Kuntau dari Cina yang sengaja didatangnkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih maen pukulan para pemuda Betawi dan yang sangat fenomenal adalah ketika Sabeni dalam usia lebih dari 83 tahun berhasil mengalahkan jago-jago beladiri Yudo dan Karate yang sengaja didatangkan oleh penjajah Jepang untuk bertarung dengan Sabeni di Kebin Sirih Park (sekarang Gedung Balaikota Provinsi DKI) pada tahun 1943 atas kemenanganya Sabeni dibebaskan dan diberi hadiah satu dus kaos singlet dan satu dus handuk.

Pemerintah Kolonial Belanda konon dibuat kerepotan dengan ulah Sabeni. Begitu juga pemerintah Jepang ketika menduduki Batavia. Ulah Sabeni rupanya juga membuat geram pemerintah Jepang saat pendudukan kala itu.

Sampai usia 84 tahu Sabeni masih mengajar maen pukulan (beliau mengajar hampir keseluruh penjuru Jakarta bahkan untuk mendatangi tempat mengajar beliau biasanya berjalan kaki), sampai meninggal dunia dengan tenang didampingi oleh murid dan anak anaknya pada hari Jumat 15 Agustus 1945 atau 2 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam usia 85 tahun, beliau dimakamkan di Jalan Kuburan Lama Tanah Abang. Yang kini telah berubah menjadi jalan Sabeni.

Sampai saat ini aliran Sabeni dilestarikan oleh anak dan keturunan dari Sabeni dan berpusat di daerah Tanah Abang, salah satunya adalah Bapak M.Ali Sabeni yang merupakan anak ke 7 dari Sabeni yang selain sebagai pengurus silat Sabeni juga seorang tokoh seniman Sambrah Betawi. Bapak M. Ali Sabeni juga yang memperjuangkan agar nama Sabeni diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Murtado;

Murtado lahir di Kemayoran pada tahun 1869 dan meninggal saat ulang tahun kemerdekaan RI Ke 41 di Kebon Sirih, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ayahnya mantan lurah bernama Murtado Samin dan ibunya adaah Aminah.

Pada masa itu, kawasan Kemayoran menjadi kawasan ‘hitam’. Sering terjadi tindak kejahatan. Pelakunya adalah para preman yang sengaja dibayar kompeni untuk mengacau. Para preman ini juga ditugasi kompeni untuk menarik pajak yang ‘mencekik leher’ dari warga pribumi.

Murtado yang jago silat, tak tinggal diam kampungnya ‘diobrak-abrik’. Murtado bak superhero di kawasan Kemayoran. Murtado berhasil mengalahkan preman suruhan kompeni yang terkenal sakti, Bek Lihun. Sejak itu, Murtado dinobatkan sebagai Macan Kemayoran, yang namanya juga dijadikan julukan klub sepakbola Jakarta (Persija). Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Koja, Jakarta Utara.

Entog Gendut;

Menurut berbagai sumber, pada masa penjajahan Belanda rakyat Condet hidup dalam tekanan kompeni dan para tuan-tuan tanah yang bermarkas di kampung Gedang. Seluruh tanah Condet (bahkan sampai Tanjung Timur dan Tanjung Barat) dikuasai oleh tuan tanah. Rakyat diharuskan membayar pajak, yang ditagih oleh para mandor dan centeng tuan tanah. Pajak (blasting) sebesar 25 sen yang harus dibayar setiap minggu diniai sangat berat oleh rakyat, karena harga beras masa itu hanya sekitar 4 sen per kilogram.

Apabila terdapat penduduk yang belum membayar blasting, maka mereka diharuskan melakukan kerja paksa mencangkul swah dan kebum kompeni selama sepekan. Bahka jika ada pemilik sawah atau kebun yang belum membayar pajak Kompeni hukumanya lebih berat, yakni hasil sawah dan kebunya tidak boleh dipanen.

Menyaksikan semua penderitaan rakyat itulah, timbul kemarahan alam diri Entong Gendut. Ia kumpulkan sleuruh rakyat Condet dan mengibarkan panji perang melawan Kompeni.

Pada tanggal 5 April 1916 terjadilah perang di Landhuis (dikenal  sebagai Villa Nova) yang ditempati Lady Lollision dan para centengnya. Entong Gendut bersama sekitar 30 pemuda Condet menyerbu, namun setelah datang bala bantuan dari Batavia pembrontakan tersebut dapat dipadamkan. Entong Gendut meninggal tertembus peluru Kompeni. Nama Entong Gendut sempat diabadikan sebagai nama jalan di Kawasan Condet sebelum diganti dengan jalan Ayaman.


(Oleh : Imansyah Hakim Al Rasyid/disarikan dari berbagai sumber/Penulis seorang Jurnalist dan Pemerhati Masalah Betawi)











Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)