News

Ratusan Anak Dengarkan Dongeng Islaami

Administrator | Minggu, 24 September 2017 - 20:17:13 WIB | dibaca: 84 pembaca

MAMPANG,Jakpos.web.id- Ratusan Anak Anak dari berbagai usia mengikuti acara Tharib Muharom di Masjid Al Falah, Mampang Jalarta Selatan. Dengan tema acara Indonesia Mendongeng.

Dari penjabaran Panitia acara tersebut seperti yang di sampaikan, Reksha Mahifa, bisa disimpulkan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya kecil sebagai bentuk kekuatan kepada Allah dengan menguatkan generasi muslim yang lemah.

Menurutnya, dalam acara mendongeng itu, bisa dikatakan seseorang lemah bukan hanya karena tidak mampu mengangkat sesuatu yang berat, tapi ketika dikatakan miskin maka sudah identik dengan miskin harta.

"Bisa saja seseorang menjadi lemah karena tidak makan, ia tidak makan karena ia tidak punya uang untuk membeli makan. Bisa saja seseorang lemah karena tak punya ilmu, ia tak punya ilmu karena tak didukung oleh harta untuk menuntut ilmu. Jadi lemah adalah akibatnya, sedang harta adalah penyebab dasarnya," ungkapnya.

Sedangkan pendongeng Islami yang jadi nara sumber kak Imam mengatakan, dengan dongeng, diyakini akan sangat disukai anak anak, sebab cerita-cerita dongeng yang disajikan bisa diterima dengan jelas dengan bahasa anak.

"Bahwa secara umum anak-anak memang menyukai dongeng. Selain disukai anak-anak karena bentuk ceritanya yang penuh imajinatif, dongeng selalu meninggalkan pesan dibalik ceritanya," ungkap Imam.

Pesan yang hampir serupa tersirat dalam dongeng yang diceritakan dengan judul “Monod dan Bedu”. Si Monod adalah anak yatim piatu yang pincang kaki, bungkuk badan serta rewot rumahnya. Satu kali saat ia mencari kayu bakar ia menemukan sebuah buku. Buku itu kemudian ia bawa pulang untuk dipelajari. 

Tapi ternyata buku itu harus dibuka dengan kata sandi, dan kata sandi itu adalah jawaban dari sebuah pertanyaan “Siapakah Tuhan yang patut disembah?”. Maka berlomba-lombalah anak-anak yang mendengar dongeng kak Indri menjawab: “Allah”.

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita melihat kalender kita masing-masing. Dan yang terlihat adalah setiap kalender kita tanggalnya berwarna merah. Itu artinya hari libur umum untuk semua kegiatan. Karena alasan awal kita adalah bentuk ketakutan kepada Allah meninggalkan generasi lemah, maka kita pasti tidak mau anak-anak kita di saat liburan diisi dengan kegiatan malas-malasan, bukan?

Sebagai penutup, Indonesia Mendongeng yang merupakan agenda tahunan adalah contoh kecil sebagai bentuk kepedulian  kepada anak-anak, khususnya generasi Muslim. 

“Kegiatan mendongeng ini sebagai bentuk perwujudan kepedulian pada perkembangan anak. Saat sekarang ini anak TPQ dan TK jarang sekali mendengarkan cerita-cerita dongeng. Namun yang paling penting adalah apapun yang kita lakukan tetaplah menjadi manusia yang beriman," pungkasnya.

(ags/jp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)