Sosok

Catatan Anies Baswedan dari Mekah

Sebuah Keindahan Silaturahim: Menghayati Hati Jernih Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al-Maliki A

Administrator | Selasa, 29 Agustus 2017 - 15:54:12 WIB | dibaca: 332 pembaca

Anies Baswedan di Mekah (sumber foto : dok pribadi)

Oleh : Anies Baswedan  

Malam tadi (Senin, 28/8/2017) bersilaturahim di kediaman ulama terkemuka Kota Mekkah, Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasaniy. Beliau adalah cucu dan penerus Sayyid Alawi Al-Maliky, yang merupakan guru dari banyak ulama terkemuka di Indonesia; seperti KH Abdullah Faqih, KH Idam Khalid, KH Abdullah Syafii, Tuan Guru Zaenuddin Abdul Majid, KH Maemun Zubair dan masih banyak lagi. 

Sesudah sholat Maghrib berjamaah, lalu disambung majelis shalawat. Secara khusus beliau meminta utk duduk berdampingan sepanjang majelis berlangsung. Hadir dalam majelis tadi Habib Muhammad bin Abdurahman Assegaf dari Jeddah; Imam Masjid Al-Aqsa yang juga Penasehat Kementerian Agama Palestina, Mohamed Gamal Hasan Abo Elhonood; Penasehat Kementerian Agama Ahlus Sunnah wal Jamaah di Irak yang juga trainer Internasional utk penanggulangan terorisme, Syekh Ali Bin Eid Al Kafaji Al-Qodiri; Mursyid Tariqat Naqsabandiyah Kurdistan, Syekh Bahauddin bin  Muhyidin Al-Naqsabandi. Tampak hadir pula ulama-ulama  dari Oman, Qatar, Turki, India, Pakistan, Mauritania dan Thailand.  

Setelah Abuya Sayyid Ahmad selesai bicara, beliau  memberikan kehormatan untuk saya bicara dan kemudian beberapa tamu ulama tersebut untuk juga menyampaikan pandangannya. Masing-masing ulama diberi waktu untuk berbicara di hadapan majelis ini. 

Terasa amat mengharukan saat semua ulama itu memanjatkan doa untuk kita, untuk Jakarta, untuk Indonesia; deretan doa yang sungguh membuat terharu. Tidak menyangka perhatian mereka begitu besar. Di antara doa yang mereka ucapkan: Semoga Allah memberikan taufik, kemudahan dan bimbingan kepada Saudara kami Anies Baswedan dalam mengemban amanah sebagai Gubernur Jakarta. Di akhir majelis yang mulia ini, kami bersama para jamaah menyantap makan malam di halaman rumah beliau. 

Saat semua masih makan, Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasaniy secara khusus meminta saya ke ruangan pribadinya. Ruang pribadi beliau itu mencerminkan ruang seorang alim, seorang ulama, yaitu seluruh dindingnya tertutup oleh rak berisi kitab; beliau mengundang bicara empat mata.

Setelah kita berdiskusi sebentar, beliau menyampaikan pesan dan nasihat, lalu memberikan sorban hijau sembari berkata: "Sorban hijau ini adalah milik ayah, dan kini saya serahkan sorban ini untukmu". Lalu tak lama kemudian beliau berikan juga  sebuah sorban berwarna putih. Ini ada satu dari deretan kebaikan hati dari beliau malam ini, kebaikan dan kejernihan hati yang seakan tanpa batas.  

Sebelumnya, pada saat majelis sholawat belum dimulai, kita memang duduk bersebelahan jadi beliau saat bicara selalu sambil memegang tangan saya. Suatu ketika saat sedang memegang tangan saya, beliau mengangkat tangannya dengan lalu melepas cincin batu berwarna hijau dari jarinya lalu dengan cepat sekali memegang tangan dan menyematkan cincin itu di jari saya. Pakailah ini sebagai tanda cinta dari kami. Subhanallah... Proses itu terlalu kilat untuk disadari dan sungguh sebuah kehormatan tak terduga.  

Di saat Majelis tengah berlangsung, seorang asisten beliau datang membawakan sebuah cangkir berisi air Zamzam. Beliau minum seteguk lalu menyodorkan cangkir tersebut untuk saya minum dari cangkir yang sama. Di Majelis itu kami minum air Zamzam dari cangkir yang sama, secangkir berdua. 

Lalu, menjelang selesai majelis, beliau meletakan tasbih ke tangan saya sambil berbisik, "Tasbih ini sudah digunakan untuk melafalkan shalawat jutaan kali, sejak ayah saya, dan kini saya serahkan tasbih ini pada saudaraku Anies untuk diteruskan membaca sholawat". Sebuah tasbih kayu kokka berwarna coklat.  

Malam ini beliau berikan pula sebuah cincin bermata hijau yang dilepas dari jarinya, lalu diberikannya juga sebuah tasbih dan dua sorban, warisan ayahnya, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasany. Tiada kata yang cukup untuk menggambarkan kebaikan dan kesejukkan hatinya. 

Sungguh sebuah silaturahmi yang penuh mahabbah dengan Abuya Sayyid Ahmad. Bersyukur bisa berada dalam majelis yang mulia ini bersama para ulama dari berbagai negeri. Di kota suci, di tanah suci, di tanah Al Quran diturunkan, di tanah Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan, malam ini hadir sebuah suasana yang menundukkan hati.

Tiada kata yang cukup selain mengingatkan diri kita selain, "Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kamu dustakan?” Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu bersyukur. 


Mekkah, 7 Dzulhijjah 1438.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)