Kerak Telor

Sensasi laksa Betawi yang Gurih Menggoda

Administrator | Minggu, 26 November 2017 - 09:19:01 WIB | dibaca: 210 pembaca

Nama Laksa Betawi mungkin sebagian generasi muda saat ini tidak mengenal, karena makanan fast food semakin menjamur dimana-mana. Menurut sejarah, laksa adalah makanan berjenis mie yang diberi bumbu sesuai kebudayaan peranakan, dalam semangkuk laksa ada gabungan elemen Tiongkok dan Melayu.

Di antara sedikit penjual laksa betawi lama, salah satunya adalah kedai ketupat laksa Umi Atin di Matraman. Kuahnya yang berwarna kekuningan terbuat dari udang rebon sehingga rasanya menjadi khas dan segar. Seporsi harganya Rp 12.000, Laksa betawi lazimnya berisi telur, ketupat, tauge pendek, daun kemangi, dan kucai. Ada juga yang menambahkan bihun dan perkedel, tetapi keduanya hanya sebagai variasi atau tambahan. Ketupat laksa Umi Atin tidak menggunakan kedua bahan tersebut.

”Itu cuma pilihan saja. Kalau di sini, makan laksa lauknya bias ditambah semur betawi. Jadi, rasa gurih dengan manisnya bias membuat cita rasa tersendiri,” kata Dwi yang kini menjalankan usaha kedai ketupat laksa UmiAtin (Rabu, 22/11). Dwi adalah anak Bang Yanto, pendiri usaha tersebut.

Kuah laksa di kedai itu agak kental, tetapi tetap terasa segar ketika dimakan. Begitu ada yang pesan, penjual akan langsung meracik susunan ketupat, tauge pendek, telur, daun kemangi, dan kucai dalam satu piring, lalu disiram dengan kuah.

Dari tampilan makanan ketupak laksa ini mirip dengan laksa bogor atau laksa tangerang. Meski sama-sama bernama laksa, tetapi cita rasa dan sensasinya berbeda. Kalau laksa bogor, kuah kentalnya berasal dari potongan oncom. Lalu, dalam campurannya ada ketupat, bihun, tauge panjang, suwiran daging ayam, udang, dan telur rebus. Biasanya dimakan dengan sambal cuka.

Terkadang, penjual laksa menyiram dan membuang kuahnya berulang kali agar bumbunya meresap kedalam bahan-bahan yang ada. ”Kalau kami tidak perlu menyiram dan membuang kuah berulang kali. Cukup sekali tuang maka kekentalan bumbunya sudah sangat terasa,” ujar Dwi.

"Dengan proses yang agak rumit, tidak aneh kalau makanan ini jadi agak langka. Orang maunya makanan cepat saji yang ringkas jadi tanpa memikirkan cara pembuatannya. Contohnya saudara saya. Dia tahu resepnya dan diajari cara membuatnya, tetapi rasanya tetap berbeda dengan yang saya buat,” tuturnya.

Dalam sehari, di kedai ketupat laksa Umi Atin menghabiskan 100 ketupat. Belum lagi bila ada pesanan untuk pesta pernikahan bahkan ada pesanan untuk perayaan ulang tahun. Ketupatnya terasa empuk dan teksturnya sangat menarik karena untuk mengolahnya dibutuhkan waktu 10 jam. Ketupat itu bias tahan hingga dua hari. (bia/JP)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)