Kota Kita

Silat Betawi : Sholat, Sholawat dan Silat

Administrator | Selasa, 12 September 2017 - 04:26:30 WIB | dibaca: 287 pembaca

(Foto:Ilustrasi) : Kegiatan Pembinaan Silat Betawi Bagi Generasi Muda,Pada Kegiatan Lingkungan di Sekitar Ciliwung, Komunitas Mat Peci (Foto : Ratman/pp)

Solat, Silat, Sholawat (3S) - itulah motto yang selalu dikedepankan setiap Perguruan Pencak Silat Betawi, termasuk Perguruan Pencak Silat Cingkrik Rawa Belong Cabang Lengkong Wetan. Artinya kira-kira belar silat dengan tidak boleh meninggalkan Sholat dan Sholawat, dan yang terpenting sebelum belajar silat harus bisa mengaji terlebih dahulu.

Itulah keunggulan kekuatan tradisi budayanya selain kekuatan seni bela dirinya dari Pencak Silat Betawi. Sholat, Silat, Sholawat, dan mengaji sudah begitu melekat dalam tradisi masyarakat Betawi. Misi kami yang utama adalah menjaga dan melestarikan warisan budaya pencak silat ini.

Salah satu faktor yang membuat silat Cingkrik berkembang adalah singkatnya waktu mempelajari silat ini. Jurus-jurus Cingkrik Rawa Belong bisa dipelajari dalam kurun waktu enam bulan dengan intensitas latihan teratur. Cingkrik bisa dipelajari lebih cepat bagi seseorang yang memiliki dasar keahlian bela diri.


Silat cingkrik Rawa Belong dengan moto  sholat,silat dan sholawat sesungguhnya mengajarkan untuk membangun kembali seni budaya betawi sekaligus sarana mengenang perjuangan para pendekar dan pahlawan yang gugur dalam perang melawan penjajah Belanda.


Menjaga silaturahmi antar Perguruan Pencak Silat agar terjalin komunikasi yang baik dan juga dengan masyarakat. Perguruan Pencak Silat Cingkrik Lengkong Wetan Pimpinan Rahmat Hidayat masih tergolong muda. Didirikan sekira 10 tahun silam oleh Rahmat Hidayat dan para kerabatnya Rahman (kakak), Ibrahim (adik) yang memang merupakan keluarga besar.


Seperti halnya Perguruan Pencak Silat Betawi lainnya, kami juga mengedepankan 3S. Oleh karena itu dilingkungan perguruan kami, kami selenggarakan juga Taman Pendidikan Alquran (TPA) Al Jabar, marawis, gambang kromong, dan palang pintu, untuk anak-anak di lingkungan kami.


“Ini untuk menampung anak-anak pada umumnya yang ingin belajar Alquran maupun anak-anak yang ingin mengaji sambil belajar silat. Karena sebelum belajar silat harus bisa mengaji terlebih dahulu,” jelas Rahmat Hidayat.


Pada awalnya, latihan diadakan pada hari Sabtu dan kami sendiri yang melatih. Namun, karena latihan hari Sabtu mengganggu anak-anak yang akan belajar pagi harinya, maka latihan dirubah menjadi hari Minggu. Hingga tahun ketiga ini siswa kami telah mencapai lebih kurang 100 siswa. Mereka berasal dari masyarakat Lengkong Wetan dan sekitarnya.


“Yang cukup membanggakan adalah Silat Cingkrik telah menjadi pelajaran ekstrakurikuler di MI Lengkong Gudang Timur, “ kata Rahmat Hidayat serius.


Perguruan Beksi Silat Selempang Betawi (PSSB).

Menyebut nama Perguruan Silat Beksi Selempang Betawi, orang pasti akan teringat dengan sosok Muslih. Dialah guru besar sekaligus ketua PSSB hingga kini. Meski usia bisa dibilang sudah tua yakni 62 tahun, namun fisiknya masih sangat sehat. Nada bicaranya pun tegas. Hampir setiap pertanyaan yang diajukan oleh jakpos begitu lancar dijawab.

“Beginilah aktifitas kami sekarang. PSSB terus berupaya membina generasi muda secara moral, fisik dan mental agar mereka memiliki kesadaran membangun daerahnya. Hanya ini yang mungkin bisa kami perbuat,” terang pria kelahiran 19 November 1949 ini.

Beksi adalah salah satu aliran seni bela diri tradisional dari tanah betawi. Arti Beksi adalah “Pertahanan Empat Penjuru Mata Angin”. Namun ada juga yang menyingkatnya menjadi Bersatulah Engkau Kepada Sesama Insan. Makna inilah yang selalu ditanamkan Muslih kepada para anggota PSSB. Jadi, kata Muslih, kalau ada orang belajar silat Beksi hanya sekadar untuk menjadi jagoan lebih baik tak usah diteruskan. Sebab, Beksi mendidik orang untuk untuk menjadi seorang pendekar agar tidak menjadi insan lemah dan mudah diperlakukan semena-mena oleh orang-orang yang bermaksud menindasnya.

“Anggota Beksi harus punya sifat ksatria, berjiwa besar, punya budi pekerti mulia, dan menghargai orang lain. Mereka harus selalu siap sedia melindungi orang yang lemah tanpa melihat siapa dan dari mana berasal,” ujar Babeh Muslih—sapaan akrabnya yang belajar ilmu silat beksi sejak tahun 1967-1971. Selain itu syarat mutlak dalam mempelajari beksi adalah sabar, rendah hati, dan menjalani syareat agama.

Hingga kini, PSSB memiliki sekitar 1.200 anggota yang tersebar di 16 padepokan dalam 4 kecamatan di Tangsel seperti Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang dan Pondok Aren. Beberapa lainnya berada di wilayah Jurang Mangu Timur, Kampung Pladen, Pondok Ranji Rengas, Bintaro Sektor 2, Palbatu, Karawang, Bogor, dan Sawah Baru.

PSSB pertama kali dikenalkan oleh (alm.) Kong Simin. Tokoh PSSB ini adalah murid dari Ki Marhali yang merupakan murid Lie Cang ouk. Nama lain Lie cang Ouk adalah Abdul Fatah. “Nama Abdul Fatah itu diberikan oleh guru beksinya Lie Cang Oukyang bernama Ki Jidan. Sang guru memberikan nama itu karena Lie Cang ouk diislamkan oleh Ki Jidan yang merupakan pencipta ilmu silat beksi,” terang Babeh Muslih.

Sedangkan Babeh Muslih sendiri belajar silat Beksi dari (alm.) Kong Simin. Sebenarnya ada 3 rekan Muslih lainnya yang juga belajar bersama yakni Abdul Hamid dari Pondok Petung, Janin dari Kebon Kopi dan H. Mahbug dari Rawa Papan Bintaro. Namun ketiganya sudah meninggal dunia. “Kini, tinggal saya yang meneruskan untuk mengembangkan silat Beksi ini. Saya cinta budaya betawi karena itu saya mempelajari silat ini. Saya tidak ingin warisan berharga dari para pendahulu Beksi hilang tertelan perkembangan zaman,” ujar pria yang memiliki 7 putra ini.

Dia menilai, selama ini generasi muda banyak yang gandrung pada seni bela diri import. Karena itu, sejak tahun 1971 babeh Muslih mulai memberikan pelatihan kepada yang berminat untuk mempelajari beksi. Dan sejak tahun itu hingga kini, Babeh Muslih memusatkan pelatihannya di Tangsel tepatnya di Jalan Bonjol , Gg. Warga I Rt 01/04 No. 94, Pondok Karya, Pondok Aren.

Meski lahir di Tangsel, namun hingga kini perhatian pemerintah daerah setempat terhadap perguruan ini dinilai minim. “Kami lahir di Tangsel, namun selama ini justru yang lebih peduli adalah pemerintah DKI Jakarta. Hampir di berbagai kegiatan DKI, kami selalu dilibatkan,” jelasnya. Babeh Muslih mengaku dalam setiap kegiatan seni budaya DKI, perguruan yang dipimpin selalu mendapat undangan resmi. “Kami juga dilibatkan dalam penataran pelatih silat oleh DKI beberapa waktu lalu,” jelasnya seraya mengatakan bahwa PSSB pernah mendapatkan piagam penghargaan dari Pemda DKI Jakarta.

Jurus-jurus PSSB

PSSB memiliki 12 jurus yakni Beksi, Gedig, Tancep, Blok B, Bandut, dan Tunjang. Lalu Tingkes, Silem, Rasia Panca Beksi, Broneng, dan Jejel. Dari seluruh rangkaian jurus itu, ditutup dengan jurus selempang 12. Selempang, menurut Babeh Muslih dalam bahasa Belandanya adalah uniform, yang artinya pakaian yang rapi. “Nah, kalu sudah rapi kita mau pergi kemana juga enak saja, Ini juga yang mendasari saya menamainya silat beksi ini dengan nama Selempang Betawi,” ujarnya.

Menurut babeh Muslih, ada tiga tahapan dalam mempelajari ilm silat beksi. Dimana setiap tahap ada empat jurus beksi yang dipelajari. “Intinya, setiap yang mempelajari beksi harus bertekad untuk melestarikan, merawat, dan mengembangkan seni ilmu bela diri khususnya Beksi,” tutur Muslih.

(gunawan/JP)
 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)